Jumat, 16 Desember 2011

HUKNAH


PENGERTIAN
Huknah/ Enema adalah memasukkan suatu larutan ke dalam rectum dan kolon sigmoid. Alasan utama enema ialah untuk meningkatkan defekasi dengan menstimulasi peristaltic. Volume cairan, yang dimasukkan, memecah masa feses, merenggangkan dinding rectum, dan mengawali reflek defekasi. Enema juga diberikan sebagai alat transportasi obat-obatan yang menimbulkan efek local pada mucosa rectum.
Enema paling sering digunakan untuk menghilangkan konstipasi untuk sementara. Indikasi lain antara lain : membuang feses yang mengalami impaksi, mengosongkan usus sebelum menjalani pemeriksaan diagnostik, pembedahan atau melahirkan, dan memulai program bowel training

INDIKASI
a.         Konstipasi
b.        Kebiasaan buang air besar yang tidak teratur.
c.         Penggunaan laxative yang berlebihan.
d.        Peningkatan stress psikologis
e.         Impaksi fases
f.         Kebiasaan buang air besar yang teratur
g.        persiapan pra operasi
h.        untuk tindakan diagnostik misalnya pemariksaan neurologi
i.          pasien dengan malaena

KONTRA INDIKASI
a.         dengan diverticulis,ulcerative colitis,crhon’s disease.
b.        Post operasi
c.         Pasien dengan gangguan fungsi jantung atau gagal ginjal, hemoroid, tumor rectum dan kolon.

DAMPAK PEMBERIAN HUKNAH
1.        Dampak positif
a.         membersihkan kolon bagian bawah (desenden) menjelang tindakan operasi
b.         Sebagai jalan alternatif pemberian obat.
c.         Menghilangkan distensi usus.
d.        Memudahkan proses defakasi.
e.         Meningkatkan mekanika tubuh.

2.        Dampak negative
a.         Jika menggunakan larutan terlalu hangat akan membakar mukosa usus dan jika larutan terlalu dingin yang diberikan akan menyebabkan kram abdomen.
b.         Jika klien memiliki kontrol sfingter yang buruk tidak akan mampu menahan larutan enema (perry,peterson,potter.2005).

Beberapa perbedaan dalam tindakan cleansing enema :
No
Perbedaan
Huknah rendah
Huknah tinggi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
·         Tindakan




·         Tujuan





·         Kanul enema

·         Posisi



·         Jumlah cairan hangat yang diberikan untuk dewasa

·         Tinggi irigator
·         Tindakan   memasukkan cairan hangat dari rectum kedalam kolon desenden

·   Mengosongkan usus sebagai persiapan tindakan operasi, colonoscopy


·         Kanula Recti

·         Posisi sims miring kekiri


·         500 ml



·         ± 30 cm dari tempat tidur
·         Tindakan memasukkan cairan hangat dari rectum dimasukkan kedalam kolon asenden.

·         Membantu mengeluarkan fases akibat konstipasi atau impaksi fekal


·         Kanula usus

·         Posisi sim’s miring ke kanan


·         750-1000ml



·         ± 30-45 cm dari tempat tidur

Jumlah larutan yang diberikan tergantung pada jenis enema, berdasar usia dan jumlah cairan yang bisa disimpan :

No
Usia
Jumlah Larutan
1.
2.
3.
4.
5
Bayi
Toddler atau preschool
Anak usia sekolah
Remaja
Deawasa
150 – 250 ml
250 – 350 ml
300 – 250 ml
500 – 750 ml
750 – 1000 ml

MACAM DAN TUJUAN ENEMA ATAU HUKNAH
Enema dapat diklasifikasikan kedalam 4 golongan menurut cara kerjanya diantaranya : cleansing (membersihkan), carminative (untuk mengobati flatulence), retensi (menahan), dan mengembalikan aliran.
1.        Cleansing Enema
Clensing Enema merangsang peristaltik dengan mengiritasi kolon dan rektum dan atau dengan meregangkan intestinal dengan memasuki volume cairan. Ada 2 cleansing enema yaitu :
a.         Huknah Rendah
Low enema (huknah rendah) diberikan hanya untuk membersihkan rektum dan kolon sigmoid. Sekitar 500ml larutan diberikan pada orang dewasa, klien dipertahankan pada posisi sims / miring kekiri selama pemberian.
Tujuan huknah rendah diberikan adalah :
ü  Mengosongkan usus sebagai persiapan tindakan operasi, colonoscopy
ü  Merangsang peristaltik usus
ü  Tindakan pengobatan / pemeriksaan diagnostik

b.        Huknah Tinggi
High enema (huknah tinggi) diberikan untuk membersihkan kolon sebanyak mungkin, sering diberikan sekitar 750-1000ml larutan untuk orang dewasa, dan posisi klien berubah dari posisi lateral kiri ke posisi dorsal cecumbent dan kemudian ke posisi lateral kanan selama pemberian ini cairan dapat turun ke usus besar. Cairan diberikan pada tekanan yang tinggi daripada low enema. Oleh karena itu, wadah dari larutan digantung lebih tinggi. Cleansing enema paling efektif jika diberikan dalam waktu 5-10 menit.
Tujuan huknah tinggi diberikan untuk :
ü  Membantu mengeluarkan fases akibat konstipasi atau impaksi fekal
ü  Membantu defaksi yang normal sebagai bagian dari program latihan defakasi (bowel training program)
ü  Tindakan pengobatan / pemeriksaan diagnostik.

Persiapan alat
Pemberian melalui slang rectal dengan wadah enema pada enema rendah dan enema tinggi.
a)        Wadah enema (huknah)
b)        Volume larutan hangat
ü  Dewasa : 700-1000ml, dengan suhu 40,5-43ºC
ü  Anak – anak
Bayi : 150-250ml
Usia bermain (toddler): 250-350ml
Usia sekolah : 300-500ml
Remaja : 500-700 ml
Cat : Suhu cairan yang digunakan untuk anak-anak adlah 37,7ºC,sedang untuk dewasa dihangatkan 40,5-43ºC
c)        Slang rectal dengann ujung bulat.
Dewasa : No.22-30 G French(fr)
Anak – anak : No.12-18  fr
d)       Slang menghubungkan slang rectal ke wadah (slang irrigator)
e)        Klem pengatur pada slang
f)         Termometer air untuk mengukur suhu larutan
g)        Pelumas lautan dalam air
h)        Perlak pengalas
i)          Selimut mandi
j)          Kertas toilet
k)        Pispot
l)          Baskom, waslap dan handuk, serta sabun
m)      Sarung tangan sekali pakai
n)        Tiang intravena
o)        Cucing
p)        Disinfektan

Persiapan pasien
1.        Mengucapkan salam terapiutik
2.        Memperkenalkan diri
3.        Menjelaskan pada klien dan keluarga tentang prosedur dan tujuan tindakan yang akan dilaksanakan
4.        Membuat kontak (waktu, tempat dan tindakan yang akan dilakukan)
5.        Selama komunikansi digunakan bahasa yang jelas, sistematis serta tidak mengancam
6.        Klien atau keluarga diberi kesempatan bertanya untuk klasifikasi
7.        Memperlihatkan kesabaran, punuh empati, sopan, dan perhatian serat respek selama berkomunikasi dan melakukan tindakan
8.        Pasien disiapkan dlam posisi yang sesuai

Persiapan lingkungan
1.        Ruangan terutup
2.        Pastikan semua jendela atau pintu dakam keadaan tertutup agar privasi terjaga.
3.        Pasang sekat atau sampiran
4.        Gunakan selimut untuk melindungi daerah privasi pasien

Prosedur pelaksanaan
Penatalaksanaan cleansing enema yang terdiri dari low enema (huknah rendah) dan high enema (huknah tinggi), diantaranya :
1.        Jelaskan prosedur kepada klien.
Mengurangi ansietas klien dan meningkatkan kerja sama prosedur.
2.        Tutup ruangan / tirai.
Memberikan privasi pada klien.
3.        Bantu klien untuk pada posisi miring ke kiri (lateral kiri) untuk huknah rendah dan miring ke kanan untuk huknah tinggi dengan lutut kanan fleksi.
Biasanya ditempatkan pada posisi rekumben dorsal. Posisikan klien dengan sedikit control sfingter pada pispot.
Memungkinkan larutan enema mengalir kebawah dengan bantuan gravitasi sepanjang lengkung natural kolon sigmoid rectum, sehingga memperbaiki retensi larutan (klien dengan control sfingter buruk tidak akan mampu menahan larutan enema).
4.        Letakkan perlak pengalas dibawah pantat klien
Agar linen tempat tidur tidak basah
5.        Selimut butuh dan ekstrimitas bawah klien dengan selimut mandi, biarkan hanya anal yang kelihatan.
Mencegah pemajanan bagian tubuh yang tidak perlu dan mengurangi rasa malu klien.
6.        Susun wadah enema, hubungkan slang, klem, dan selang rectal.
Slang rectal harus cukup kecil untuk diameter anus klien, tetapi cukup besar untuk mencegah kebocoran disekitar slang.
7.        Tutup klem pengatur
Mencegah kehilangan larutan awal saat ditambah ke wadah
8.        Tambahkan larutan hangat kedalam wadah. Hangatkan air seperti layaknya mengalir  dari kran. Letakkan wadah salin normal dalam baskom kedalam baskom air panas sebelum menuangkan salin normal dalam baskom kedalam wadah enema. Periksa suhu larutan dengan thermometer air atau dengan meneteskan sedikit larutan diatas pergelangan tangan sebelah dalam.
Air panas dapat membakar mukosa usus sedangkan air dingin dapat menyebabkan karam abdomen dan sulit menahan air.
9.        Bilas wadah, isis dengan larutan, lepaskan klem, dan biarkan larutan keluar sampai tak ada udara. Tempatkan dekat dengan unit tempat tidur untuk memenuhi slang. Klem kembali slang.
Membuang udara dari dalam slang dan mencegah kehilangan cairan.
10.    Letakkan pispot dekat dengan tempat tidur.
Agar mudah untuk diambil bila klien tidak mampu menahan enema.
11.    Cuci tangan dan gunakan sarung tangan.
Mengurangi transmisi mikro organism
12.    Beri pelumas 3-4 cm pada ujung slang rectal dengan pelumas jeli.
Memungkinkan insersi halus slang tanpa resiko iritasi atau trauma pada mukosa rectal
13.    Alirkan sebagian kecil cairan keluar, sepanjang slang rectal untuk mengeluarkan udara dalam slang. Kemudian tutup kembali klem.
14.    Dengan perlahan, regangkan bokong dan cari letak anus. Instrusikan klien untuk rileks dengan menghembuskan nafas pada perlahan melalui mulut.
Dengan mengembuskan napas, relaksasi sfingter anus eksternal akan meningkat.
15.    Masukkan ujung slang rectal secara perlahan dengan mengarahkanny ke umbilicus klien. Panjang insersi beragam ; 7,4-10 cm untuk orang dewasa, 5-7,5 cm untuk anak-anak, dan 2,5-3,25 cm untuk bayi. Tarik slang dengan segera, jika ditemukan obstruksi.
Insersia hati-hati mencegah trauma pada mukosa rectal akibat penusukan slang secara tidak sengaja pada dinding. Insersi yang melebihi batas dapat menyebabkan perforasi usus.
16.    Terus pegang slang sampai pengisian cairan berakhir.
Kontraksi otot dapat menyebabkan ekspultasi rectal.
17.    Buka klem pengatur dan biarkan larutan masuk dengan perlahan dengan wadah pada setinngi pinggul klien.
Penginfusan cepat dapat merangsang evakuasi dini, sebelum volume yang cukup dapat diinfuskan.
18.    Naikkan wadah secara perlahan sampai pada ketinggian diatas anus (30-45 cm untuk ketinggian enema tinggi, 30 cm untuk enema rendah, dan 7,5 cm untuk bayi). Waktu pengaliran sesuai dengan pemberian volume larutan (missal,1 liter dalam 10 menit).
Memungkinkan penginfusan perlahan terus-menerus, sebelum volume yang cukup diinfuskan. Jika wadah dinaikkan terlalu tinggi, tetesan infuse akan cepat dan memungkinkan akan nyeri akibat detensi kolon.
19.    Rendahkan wadah atau klem slang selama 30 detik, kemudian alirkan kembali secara lebih lambat jika klien mengeluh kram.
Penghentian sementara penginfusan adalah untk mencegah kram. Kram dapat menghambat klien menaahan semua cairan.
20.    Klem slang setelah semua larutan dialirkan.
Mencegah masuknya udara kedalalm rectum.
21.    letakkan lapisan tisu toilet disekitar slang pada anus dan dengan perlahan tarik slang.
Memberikan kenyamanan pada klien dan kebersihan.
22.    Jelaskan pada klien bahwa prasaan distensi adalah normal. Minta klien untuk menahan larutan selama mungkin saat berbaring ditempat tidur (untuk bayi atau anak kaci, dengan perlahan pegang kedua sisi pantat selama beberapa menit).
Larutan akan mendesak usus. Lamanya retensi beragam dengan tipe enema dan kemampuan klien untuk mengontruksi sfingter ani. Makin ditahan, perangsangan peristaltic dan defakasi akan lebih efektif (bayi dan anak-anak mempunyai control sfingter yang buruk).
23.    Bereskan wadah enema dan sleng pada tempat yang telah disediakan atau cuci secara menyeluruh dengan air hangat dan sabun bila akan digunakan ulang.
Mengontrol transmisi mikro organisme.
24.    Lepaskan sarung tangan dengan cara menariknya hingga terbalik dan taruh ke dalam wadah yang telah disediakan.
Posisi jongkok normal meningkatkan defakasi.
25.    Bantu klien ke kamar mandi atau mengatur posisi pispot.
Posisi jongkok normal meningkatkan defakasi.
26.    Observasi feses dan larutan (peringatkan klien agar jaringan menyiram toilet sebelum perawat menginspeksi).
Jika enema diinstruksikan ”sampai bersih”, penting untuk mengobservasi isi larutan yang dikeluarkan.
27.    Bantu klien sesuai kebutuhan untuk mencuci area anal dengan air hangat dan sabun.
Isi fases dapat mengiritasi kulit. Kebersihan meningkatkan kenyamanan klien.
28.    Cuci tangan anda catat hasil enema pada catatan perawat.

c.         Huknah Gliserin
Memaskkan cairan melalui anus ke dalam kolon sigmoid dengan menggunakan spuit gliserin bertujuan untuk melunakkan fases dan merangsang buang air besar serta sebagai tindakan pengobatan.

Persiapan alat
1.        Selimut mandi atau kain penutup
2.        Perlak atau pengalas
3.        Spuit gliserin
4.        Bengkok
5.        Gliserin dalam tempatnya yang direndam air panas
6.        Mangkok kecil
7.        Pispot
8.        Sampiran
9.        Tisu
10.    Waslap 2 buah
11.    Baskom 2 buah
12.    Handuk serta sabun

Penatalaksanaan
1.        Jelaskan tujuan dan proseedur pelaksaan.
2.        Pasang sampiran.
3.        Pasang selimut mandi dan tarik selimut tidur.
4.        Lepas pakaian bagian bawah.
5.        Atur posisi pasien.
Dewasa : miring kekiri dengan lutut kanan fleksi
Bayi dan anak : rekumben dorsal dibawahnya diberi pispot
6.        Pasang alat dan perlaknya.
7.        Teteskan gliserin pada punggung tangan untuk memeriksa kehangatan kemudian tuangkan mangkok kecil.
8.        Isi spuit gliserin 10 – 20 cc dan keluarkan udara.
9.        Setelah pasien berada pada posisi miring, tangan kiri dan kanan mendorong pantat ke atas sambil memasukkan spuit perlahan-lahan hingga rectum.
10.    Masukkan spuit gliserin 7-10 cm untuk orang dewasa dan 5-7,5 cm untuk anak serta 2,5-3,75 cm untuk bayi.
11.    Masukkan gliserin perlahan-lahan sambil menganjurkan pasien untuk menarik napas panjang dan dalam.
12.    Cabut spuit dan letakkan dalam bengkok.
13.    Bantu pasien BAB
ü  Bantu pasien ke toilet untuk pasien yang bisa ke toilet
ü  Untuk pasien dengan keadaan umum yang lemah dengan tirah baring, pasang pispot
14.    Ambil pispot
15.    Bersihkan daerah perianal pada pasien yang buang air besar pada pispot.
ü  Bersihkan dengan tisu
ü  Ambil waslap dan bersihkan dengan air sabun pada daerah perianal
ü  Bilas dengan air bersih
ü  Keringkan dengan handuk
16.    Tarik alas dan perlak
17.    Ganti selimut mandi dan selimut tidur.
18.    Bantu pasien mengenakan pakaian bawah.
19.    Buka sampiran .
20.    Rapikan alat kemudian cuci tangan.
21.    Dokumentasikan warna dan konsistensi fases, adanya distensi abdomen.



2.        Retention Enema
Retention enema, dimasukkan oil (pelumas) kedalam rektum dan kolon sigmoid, pelumas tersebut tertahan untuk waktu yang lama (1-3 jam). Ia bekerja untuk melumasi rektum dan kanal anal, yang akhirnya memudahkan jalannya fases.

Persiapan alat
1.         Batang dengan ujung slang rectal
2.         Sarung tangan sekali pakai
3.         Pelumas larut dalam air
4.         Perlak pengalas
5.         Selimut mandi
6.         Kertas Toilet
7.         Pispot
8.         Baskom
9.         Waslap dan handuk, serta sabun

Penatalaksanaan enema dengan unit sekali pakai (enema retensi minyak).
1.         Ikuti langkah 1 sampai 5 ”slang rectal dengan wadah enema”.
2.         Letakkan pispot dekat tempat tidur.
Agar mudah untuk diambil bila klien tidak mampu menahan enema
3.         Cuci tangan dan gunakan sarung tangan
Mengurangi transmisi mikroorganisme
4.         Kenakan sarung tangan sekali pakai.
Menurunkan transmisi mikroorganisme dari feses
5.         Lepaskan kap plastik dari ujung rectal. Meskipun ujung sudah berpelumas, jeli tambahan dapat diberikan sesuai kebutuhan.
Pelumas memudahkan insersi slang rectal tanpa menyebabkan iritasi atau trauma pada rectal
6.         Dengan perlahan, regangkan bokong dan cari letak anus. Instruksikan klien untuk rileks dengan menghembuskan napas pada perlahan melalui mulut.
Dengan mengembuskan napas, relaksasi sfingter anus eksternal akan meningkat
7.         Masukan ujung botol secara perlahan kedalam rectum. Masuknya sejauh 7,5 – 9 cm untuk orang dewasa (anak-anak dan bayi biasanya tidak mendapat enema hipertonik perkemasan).
Insersi perlahan mencegah trauma pada mukosa rectal
8.         Peras botol sampai semua larutan telah masuk rectum dan kolon. (kebanyakan botol mengandung kurang lebih 250ml larutan).
Larutan hipertonik memrlukan hanya sedikit volume untuk merangsang defekasi
9.         Ikuti langkah 20 sampai 27 ”slang rectal dengan wadah enema sebelumnya

3.        Carninative Enema
Carminative enema terutama diberikan untuk mengeluarkan flatus. Larutan dimasukkan kedalam rektum untuk mengeluarkan gas dimana ia meregangkan peritaltik. Untuk orang dewasa dimasukkan 60-180ml. Contoh enema carminative ialah larutan GMW,yang mengandung 30ml magnesium, 60ml gliserin, dan 90ml air.

4.        Enema bilas Harris
Enema Bilas Harris  ( Enema arus balik ),kadang kadang mengarah pada pembilasan kolon, digunakan untuk mengeluarkan flatus. Ini adalah pemasukan cairan yang berulang ke dalam rektur dan pengaliran cairan dari rektum. Pertama-tama larutan ( 100-200ml untuk orang dewasa ) dimasukkan ke rektum dan kolon sigmoid klien, kemudian wadah larutan direndahkan sehingga cairan turun kembali keluar melalui rectal tube ke dalam  wadah. Pertukaran aliran cairan ke dalam dan keluar ini berulang 5-6 kali,sampai ( perut ) kembung hilang dan rasa tidak nyaman berkurang atau hilang. Banyak macam larutan yang digunakan untuk enema. Larutan khusus mungkin diminta oleh dokter.

Persiapan alat pada enema bilas harris (enema arus balik)
1.         Wadah enema
2.         Slang enema dan klem
3.         Pelumas
4.         Tutup Troli
5.         Perlak
6.         Tisu toilet
7.         Larutan : 500ml ledeng dengan suhu 105C
8.         Sarung tangan sekali pakai

Penatalaksanaan Enema bilas harris (enema arus balik)
1.         Jelaskan tujuan dan prosedur kepada klien.
2.         Pasang sampiran.
3.         Tuanglah larutan kedalam wadah plastik dan tutupi wadah tersebut. Bawa Troli kesisi tempat tidur.
4.         Letakkan perlak dibwah pasien.
5.         Tempatkan pelumas diatas tisu. Oleskan pelumas tersebut pada ujung slang enema.
6.         Alirkan sedikit air didalam slang untuk mengeluarkan udara.
7.         Pakai sarung tangan.
8.         Masukkan slang ke dalam rectum sepanjang 10 cm.
9.         Lakukan bilas harris sebagai berikut untuk mempengaruhi peristaltik :
ü  Buka klem, naikkan kaleng irigasi setinggi 30 – 45 cm diatas panggul pasien alirkan 200 ml cairan di atas rectum.
ü  Turunkan kaleng irigasi sekitar 30 cm dibawah tempat tidur dan biarkan air mengalir keluar dari rectum ke dalam kaleng.
10.     Lanjutkan prosedur gas keluar. Jika semua cairan telah kembali ke luar, klem slang tersebut dan amgkat
11.     angkat penutup tempat tidut.
12.     Kembalikan troli ke ruang peralatan. Buang isi kaleng, bersihkan peralatan pada enema biasa. Lepas sarung tangan dan buang dengan benar.
13.     Dokumentasikan waktu adanya distensi abdomen dan reaksi pasien.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar